Maraknya Pembangunan Waralaba Minimarket di Indonesia

Akhir-akhir ini usaha pembangunan waralaba dalam bentuk minimarket semakin marak. Minimarket-minimarket ini semakin menjamur tak hanya di kota-kota besar, tetapi juga berkembang di daerah pelosok yang penduduknya relatif sedikit. Belum lagi supermarket dan pusat grosir pun semakin marak dikota-kota kecil. Hal ini tentu saja membuat persaingan yang tidak sehat antara pedagang-pedagang yang telah ada sebelumnya dengan minimarket ini. Pedagang-pedagang yang telah ada sebelumnya, kebannyakan dari mereka merupakan pedagang-pedagang dengan modal tidak terlalu besar, sehingga mereka akan kalah bersaing menawarkan harga kepada konsumen dengan minimarket yang memang sudah terorganisir dan bermodal besar.

            Dalam pembangunan minimarket ini yang menjadi permasalahan adalah letak minimarket yang dekat dengan pemukiman warga. Warung-warung kecil yang biasanya menjadi distributor barang sehari-hari bagi warga, akan kehilangan konsumennya yang lari keminimarket. Memang minimarket memiliki daya tarik bagi warga seperti :

  • Harga relatif lebih murah + tidak ada penipuan pengambilan keuntungan yang besar (karena sudah tertera harga barangnya dari pusat)
  • Kondisi tempat belanja yang nyaman (ber-AC)
  • Promosi yang menggiurkan dengan berbagai hadiah
  • Mini market dianggap sebagai sarana rekreasi bagi keluarga

            Pemerintah sebenarnya telah mengatur keberadaan pasar modern dan tradisional lewat Presiden (Perpres) Nomor 112 tahun 2007 yang mengatur Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

            Pasal 5 Perpres tercantum, hipermarket baru hanya boleh berlokasi di akses sistem jaringan jalan arteri dan jaringan jalan kolektor. Intinya, hipermarket tidak boleh berdiri pada akses jalan lebih kecil, seperti pemukiman warga, termasuk dilarang dibangun di kawasan pelayanan lokal atau lingkungan di dalam kota dan perkotaan termasuk membatasi ruang (space) hipermarket harus di atas 5.000 meter persegi. Begitu juga pusat perkulakan. Supermarket dibatasi minimal 400-5.000 meter persegi, minimarket, 400 meter persegi. Meskipun sudah ada Perpres dan perda soal itu. Pada pelaksanaannya konflik antara pasar modern dan tradisional, terus berlangsung. Pastinya, pasar tradisional akan terdesak dan ditinggalkan pembeli atau pedagangnya. Dan ini harus dipecahkan persoalannya oleh pemerintah

 

 

Ayip, salah seorang pedagang di Pasar Karangantu, Kecamatan Kasemen, menegaskan, keberadaan waralaba yang kini menjamur di sejumlah wilayah di Kota Serang berdampak langsung terhadap penghasilan pedagang kecil. “Kita sebagai pedagang kecil sangat merasakan langsung dampaknya. Jangankan untuk bisa bersaing, untuk be            rtahan saja sulit. Karena mereka memiliki modal besar sehingga harganya lebih murah,” ujarnya.

Ayip menyayangkan dengan keluarnya Perwal yang semakin mempermudah pendirian waralaba. “Sebagai daerah yang baru dibentuk, semestinya Pemkot memerhatikan kesejahteraan rakyatnya terlebih dahulu. Jangan demi alasan mengejar PAD, malah membuat kebijakan yang merugikan masyarakat,” ungkapnya. (fau)

( www.radarbanten.com)

 

 

            Tahun 1997 perusahaan mengembangkan bisnis gerai waralaba pertama di Indonesia, setelah Indomaret teruji dengan lebih dari 230 gerai. Pada Mei 2003 Indomaret meraih penghargaan “Perusahaan Waralaba 2003″ dari Presiden Megawati Soekarnoputri.

            Hingga Mei 2010 Indomaret mencapai 4261 gerai. Dari total itu 2.444 gerai adalah milik sendiri dan sisanya 1.817 gerai waralaba milik masyarakat, yang tersebar di kota-kota di Jabotabek, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogjakarta, Bali, Lampung dan Medan. Di DKI Jakarta terdapat sekitar 488 gerai.

            Indomaret mudah ditemukan di daerah perumahan, gedung perkantoran dan fasilitas umum karena penempatan lokasi gerai didasarkan pada motto “mudah dan hemat”.

            Lebih dari 3.500 jenis produk makanan dan non-makanan tersedia dengan harga bersaing, memenuhi kebutuhan konsumen sehari-hari. (www.indomaret.com)

Keuntungan:

Jumlah pemasukan pemerintah bertambah dengan adanya pajak dari minimarket.

Kerugian :

Mematikan usaha para pedagang kecil,          kemungkinan jumlah penduduk misikin bertambah, kelaparan mengancam, pendidikan tidak akan dapat dipenuhi oleh keluarga miskin, masa depan bangsa indonesia terancam.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s