Rukun Iman sebagai Fondasi Aqidah Islam

Akhir-akhir ini di Indonesia kembali marak terjadi penyimpangan dan pelecehan agama Islam. Ini menandakan bahwa rukun iman yang merupakan dasar dari aqidah agama Islam di masyarakat Indonesia telah melenceng. Oleh karena itu kita perlu mengkaji lebih jauh lagi apa sebenarnya yang dimaksud dengan rukun iman.

Iman artinya percaya dan yakin kepada Allah Pencipta, kemudian kepada malaikat, rasul, kitab, qada dan qadar, juga hari akhir. Tapi, ada yang merumuskan iman itu harus mengandung 3 aspek: hati, lidah, dan perbuatan. Hati membenarkan apa yang kita percayai dengan yakin, lidah menyatakan dan mengakui apa yang dipercayai hati. Dan kesungguhan dan kebenaran iman akan terbukti kalau diikuti dengan amal yang baik (amal shaleh)

Iman ibarat fondasi, yang menjadi penyangga pada bangunan (agama). Kokohnya bangunan akan sangat bergantung pada kokohnya fondasi. Tapi iman itu sendiri dapat kuat bila disangga oleh enam pilar utama disebut “rukun iman”. Di dalam Al-Quran disebutkan :

“Bukanlah menghadapkan wajah ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi” (QS Al-Baqarah, 2:177).

Iman Kepada Allah, inti iman sesungguhnya adalah tauhid (mengesakan Allah), sebagaimana yang menjadi misi segala Nabi (QS 21:25). Pada ayat-ayat lain dijelaskan :

  • Allah itu Esa Zat-Nya, tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia (QS 112: 1)
  • Allah Esa Sifat-Nya (Dia hidup berkuasa, Berilmu, Berkehendak), tetapi sifat_nya tidak sama dengan makhluk lain-Nya. (QS 2:255 ; QS 42:13)
  • Allah Esa Perbuatan-Nya. Perbuatan Allah tidak bisa ditiru oleh siapapun. Dia menciptakan bunga, adakah manusia dapat membuat sekuntum bunga? (QS 59:24)
  • Allah Esa Wujud-Nya (QS 13:16)
  • Allah Esa dalam memberi hukum. Sebaik apapun hukum yang dibuat manusia, tidak dapat menyamai hukum Tuhan, umpamanya ditinjau dari segi keadilannya, simpelnya, kebijaksanaannya, filosofi hukumnya, dan akibat yang dihasilkan oleh hukumnya ( QS 5:50; 28:70).
  • Allah Esa menerima ibadah. Tiada yang pantas, patut dan berhak disembah kecuali Dia semata. (QS 1:5; 21:25).
  • Allah Esa menerima do’a, hajat dan hasrat manusia. Berdoa dan minta tolonglah hanya kepada-Nya karena Dia pasti memperkenankan apa yang diminta hamba-Nya.(QS 3:8; 51:58).

Iman kepada malaikat, mengapa kita wajib beriman kepada malaikat? Karena salah satu dari pekerjaan malaikat adalah menyampaikan wahyu dan menulis segala perbuatan kita. Dari wahyu itulah kita memperoleh informasi Tuhan itu Esa, Tuhan mempunyai aturan-aturan yang harus ditaati oleh manusia (syari’ah). Kalau kita tidak percaya kepada malaikat, maka akan menjadi ragu  pula terhadap wahyu yang disampaikannya kepada para Nabi dan Rasulullah. Oleh karena itu kita harus percaya kepada malaikat, agar kita bisa memperoleh informasi yang luas dari wahyu yang disampaikannya.

Iman kepada para Nabi dan Rasul. Untuk mengatur kehidupan manusia yang baik dan benar Tuhan menurunkan wahyu yang dibawa malaikat yang disampaikan kepada Nabi dan Rasul. Nabi adalah orang-orang pilihan yang cerdas, terpercaya, dan tahan uji. Mereka dipilih Tuhan untuk menerima berita dan menyampaikannya kepada umat (manusia). Menurut Al-Quran setiap umat telah diutus Rasul atau Nabi untuk mereka (QS Fathir, 35:24). Tuhan tidak akan mengazab manusia yang di tempat mereka belum pernah diutus pemberi peringatan. Manusia diberi kebebasan untuk memilih apakah akan menerima hidayah yang disampaikan atau tidak (QS Al-Isra’, 17:15).

Iman kepada Kitab-Kitab Allah. Konsekuensi dari iman kepada Nabi dan Rasul, wajib iman (percaya) pula kepada yang dibawanya. Para Rasul itu, sebagaimana dikemukakan terdahulu, membawa misi kerasulan (risalah). Risalah itu berupa perintah-perintah Tuhan, Baik yang berupa (kewajiban) untuk dijalankan, maupun perintah untuk ditinggalkan (larangan). Itulah makna asli dari “Kitab” yaitu “Perintah Suci”. Salah satu dari rukun iman percaya kepada “kitab-kitab Allah”. Didalam surat Al-Baqarah ayat 24 disebutkan bahwa orang beriman adalah orang yang percaya kepada kitabyang diturunkan kepadamu, Muhammad (yaitu Al-Quran) dan yang percaya kepada kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya (Zabur, Taurat, dan Injil). Semua kitab yang telah ada sebelumnya mengajarkan hal yang sama yaitu tentang tauhid kepada Allah, yang berbeda hanya dalam pelaksanaannya.

Iman kepada Hari Akhir (Eskatologi). Kepercayaan kepada Hari Akhir atau hari Kiamat dikenal juga dengan istilah “Eskatologi”, yaitu suatu ajaran teologi atau kepercayaan mengenai akhir zaman, Hari Kiamat atau Hari Kebangkitan. Iman atau kepercayaan kepada Tuhan, malaikat, kitab dan rasul, membawa kita kepada kepercayaan pada adanya Hari Akhirat ataupun Hari Kebangitan. Keyakinan akan adanya Hari Kiamat adalah kepercayaan yang paling asasi pada setiap agama, terutama agama Islam. Hidup sekarang, di dunia ini sebenarnya hanyalah hidup sementara, hidup persinggahan untuk menyiapkan bekal kehidupan yang lebih abadi di akhirat nanti. Segala perbuatan kita di dunia akan dimintai pertanggungjwabannya. Iman kepada hari akhirat amat penting. Meskipun dalam rukun iman diletakkan pada rukun yang kelima, tetapi kalau kita perhatikan Al-Quran sering menyebutkan iman kepada hari akhir ini langsung di bawah Iman kepada Allah, seakan rukun iman hanya ada dua (QS Al-Baqarah, 2:8).

Iman kepada Qadla dan Qadar. Qadla dan Qadar seringkali “takdir” berasal dari bahasa Arab yang akar katanya: Qadla-yaqdli-qadlaan, biasa berarti: hukum atau keputusan (QS. 4:65): perintah (QS. 17:23), kehendak (QS 3:47) menciptakan (QS 41:12). Sedang Qadar berasal dari akar kata: Qaddara-yuqaddiru-taqdiran, mempunyai arti: kadar atau ukuran (QS. 2:20). Qadla dan Qadar (taqdir) artinya : Hukum, keputusan, perintah, kehendak, ciptaan menurut kadar, ukuran, ketentuan, aturan, kekuasaan. Iman kepada qadla-qadar Allah artinya Percaya bahwa segala hukum, keputusan, perintah,  ciptaan tidak lepas (selalu berlandasan) pada kadar, ukuran, ketentuan, aturan, dan kekuasaan Allah SWT. Kewajiban kita beriman kepada qadla-qadar ini diatur dalam banyak ayat dalam Al-Quran agar kita terus berusaha dan berikhtiar dalam menjalani kehidupan ini, tidak berputus asa, dan mudah menyerah.

Melihat uraian di atas, kita bisa mengambil berbagai pelajaran mengenai rukun iman yang merupakan fondasi dari sistem aqidah Islam. Uraian ini bisa membuat kita lebih memperkokoh lagi aqidah kita untuk  mengatasi berbagai penyimpangan oleh orang yang tidak bertanggungjawab yang ingin menghancurkan Islam.

 

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s